Awal Mula Wabah Black Death yang Paling Mematikan

HomeSejarah

Awal Mula Wabah Black Death yang Paling Mematikan

Wabah Black Death menjadi salah satu peristiwa kelam dalam sejarah peradaban dunia. Dimana, terjadi pandemi di negara Eropa, Afrika Utara, dan Asia. K

Mengetahui Asal Usul Aksara Jawa dan Maknanya
Menelusuri Sejarah Negara Maladewa beserta Pariwisatanya
5 Cara Mengenalkan Sejarah Indonesia Pada Anak Di Usia Dini

Wabah Black Death menjadi salah satu peristiwa kelam dalam sejarah peradaban dunia. Dimana, terjadi pandemi di negara Eropa, Afrika Utara, dan Asia. Kejadian naas tersebut berlangsung antara tahun 1347-1353. Dikenal sebagai pandemi terburuk pada Abad Pertengahan, bahkan dapat membunuh lebih dari separuh populasi Eropa.

Penggunaan istilah wabah hitam merujuk pada gejala penyakit mematikan tersebut, hingga membunuh puluhan juta orang. Ketika seseorang terinfeksi, mengalami pembengkakan kelenjar getah bening di daerah selangkangan atau ketiak, terasa sangat nyeri. Pada akhirnya, bagian tubuh lainnya akan mati dan menghitam, sesuai penyebutannya Black Death.

Awal Mula Penyakit “Hitam” Ini Muncul!

Mulanya, peneliti meyakini wabah Black Death terjadi sejak 600 tahun lalu sebelum menewaskan puluhan juta orang di Asia, Eropa, dan Afrika Utara. Namun, ilmuwan tidak mampu memperlihatkan awal penyakitnya dimulai. Mulai menganalisis DNA kuno dari gigi tulang belulang di kuburan berdekatan dengan Lake Issyk Kul, Kyrgyzstan.

Area tersebut dipilih karena terdapat peningkatan secara signifikan di sejumlah pemakaman tahun 1338-1339. Kemudian, terdapat analisis terbaru yang menjelaskan awal wabahnya dari Kayrgyzstan, Asia Tengah, pada tahun 1330. Tim riset asal University of Stirling dari Skotlandia serta University of Tuebingen di Jerman menganalisanya.

Menurut Dr Maria Spyrou, periset University of Tuebingen, menjelaskan pemilihan gigi disebabkan oleh banyaknya kapiler darah. Sehingga, memberikan kesempatan kepada periset untuk mendeteksi patogen yang menular lewat darah, sampai mengakibatkan kematian. Tim peneliti wabah Black Death juga menemukan bakteri pes, Yersinia Pestis pada 3 sampel.

Sejarawan asal University of Stirling, Dr Philip Slavin mengatakan bahwa penelitian ini memberikan jawaban dalam sejarah manusia paling terkenal. Tetapi, keterbatasan penelitiannya dikarenakan sampelnya yang kecil. Hasil riset oleh para ilmuwan ini diterbitkan ke dalam jurnal Nature berjudul “The source of the Black Death in fourteenth-century central Eurasia”.

Gejala Penyakit dari Pandemi yang Mematikan

Wabah pes merupakan penyakit yang menular ke manusia lainnya. Termasuk penyakit mematikan yang disebabkan oleh bakteri Yersinia Pestis. Umumnya, bakteri ini hidup di tubuh binatang, seperti kutu dan tikus. Pandemi yang berlangsung kurang lebih tujuh tahun, mampu membunuh sekitar 75-200 juta manusia.

Banyak korban berjatuhan membuat wabah Black Death sebagai pandemi paling mematikan. Sesuai namanya, penderita akan mengalami gejala menghitam pada area tubuh tertentu. Hal itu disebabkan karena terdapat jaringan kulit yang mati, contohnya bagian ujung hidung, jari tangan atau kaki. Gejalanya berupa pembengkakan seolah bisul yang mengeluarkan nanah.

Penderita mulai mengalami rasa menggigil, demam, diare, nyeri, dan muntah, sebelum dinyatakan tewas, penyakitnya ini menyerang sistem limfatik. Sehingga, menyebabkan pembengkakan di sekitar kelenjar getah bening. Jika tidak segera ditangani, infeksi menyebar ke paru-paru dan darah. Dalam hitungan waktu, orang sehat bisa meninggal sesudah kontak dengan penderita.

Virusnya Masuk Melalui Alur Perdagangan Kapal

Wabah Black Death mulai masuk ke Eropa di bulan Oktober 1347. Saat itu, ada 12 kapal dagang dari arah Laut Hitam berlabuh di Messina, Italia, Sisilia. Sebagian awak kapal tewas sesudah tiba di dermaga, namun ada yang masih hidup dengan disertai bisul hitam bernanah. Sebelum datang kapal, masyarakat Eropa mendengar terdapat penyakit menular melalui jalur perdagangan.

Penyebaran lewat jalur perdagangan itu dari negara China dan Asia Tengah. Sejak awal tahun 1340, penyakit ini sudah menyebar di China, Mesir, Suriah, Persia, dan India.  Puncak dari Black Death di Eropa terjadi antara 1347-1351. Kemudian, tahun 1348 menyerang ke Spanyol, Perancis, Austria, Hingaria, Swiss, Jerman, lalu disusul Inggris.

Pada akhir Abad ke-19, ahli biologi asal Perancis, Alexandre Yersin menjelaskan penyebab wabah Black Death ialah infeksi bakteri Yersinia Pestis yang disebarkan melalui kutu. Sesudah diteliti lebih lanjut, penyakit ini bisa menular lewat udara dan gigitan kutu, hingga tikus yang telah terinfeksi.

Di abad pertengahan, kutu dan tikus memang banyak ditemukan di kapal dagang. Sehingga, tidak jarang menempel di baju, kemudian menularkan dari satu orang ke yang lainnya. Oleh karenanya penyebaran lewat jalur perdagangan kapal menjadi lebih cepat menyebar.

Inilah 3 Penularan Wabah Black Death Selama Terjadi Pandemi

Semasa pandemi, Black Death muncul ke dalam tiga jenis bentuk penularannya. Apa saja ketiga cara penularan penyakitnya? Berikut akan dibahas penjelasannya di bawah ini.

  • Bubo
    Pembengkakan kelenjar getah bening di leher, pangkal paha, ketiak, harapan hidupnya hanya seminggu. Ukurannya bermacam-macam, sebesar telur sampai apel. Penyebaran wabah pes dari serangga yang terinfeksi wabahnya.
  • Pneumonia
    Penyakit yang ditimbulkan dari wabah Black Death ini menyerang sistem pernapasan manusia, penyebarannya dengan menghirup udara yang dihembuskan korban. Harapan hidupnya sekitar satu sampai dua hari, jauh lebih mematikan.
  • Septicemia
    Varian ketiga akan berdampak pada sistem peredaran darah. Tidak sama dengan kedua varian lainnya, penyebarannya ini lewat gigitan serangga yang terinfeksi, lalu kontak langsung dengan manusia.

Tingkat kematian dari penyakit ini bermacam-macam, bergantung dari penyebarannya. Wabah Black Death merupakan pandemi yang menelan banyak korban jiwa dari berbagai negara di dunia.